Rabu, 05 Juni 2013

Presiden kok gitu sih cit?


simak cerpen ku yaa:)

Suara roda skateboard yang beradu dengan lantai itu memecah kesunyian lorong kecil nan sempit ini. Terlihat seorang laki laki dengan badan yang menjulang tinggi dan memiliki kulit yang hitam legam itu dengan santai menelusuri lorong, tetapi  enggan memasuki ruangan.  Ilham Citra Pangesti. Nama yang bagus,tapi sayang penampilanya tidak mendukung. Panggil saja dia icit.
Akan kuceritakan sedikit tentang penampilannya. Baju yang keluar dari celana,tanpa dasi yang menghiasi lehernya, tanpa sabuk yang melilit di pinganggnya. Judge pertama ku. DIA ANAK BRANDAL. TITIK. Tak ada kata lain di otak ku selain itu untuk menjelaskan penampilannya.
Ku tatap cermin yang tergantung di ujung lorong ini. Sambil berfikir dan berkata. “Hih jauh sekali dengan penampilan ku”. Ya lihat lah diriku. Baju ku tak ada yang keluar dari rok. Dasi ku rapi tergantung di leher dan sabuk ku hampir sempurna melilit pinggang ku. Mengapa sekolah ku tercinta ini bisa menerima murid sebrandal dia?
Kutatap dia tajam,seperti singa yang ingin menerkam mangsanya. Tapi ini berbeda tentu saja. Laki laki itu malah menatap kembali tajam tatapan ku. Hah kau kira aku takut dengan anak brandal macem dia?
“apalu liat liat?” kata icit dengan nada membentak. Mendengar kata itu kuputar saja bola mata ini,seakan enggan untuk berbagi tatapan dengannya
“gua denger lu anak pinter ya disini?” kata yang meluncur dari mulut icit ini yang membuat kaki ku kaku untuk berjalan. “tapi gua harap lu jangan cengeng ya din?” kata icit dengan nada mengejek.
Mulutku yang mungil ini sepertinya enggan berbagi kata-kata dengan anak brandal yang berada di depan ku ini. Tetapi mata ku ini seperti mulut yang tak bersuara. Mata ku langsung terbuka lebar saat icit berkata aku anak cengeng.
“wets jangan melotot gitu dong,manis” kata manis yang ditunjukan kepada ku tidak terdengar seperti pujian,melainkan sebuah ejekan. “yaa maap maap ajah ya din kalo nanti di papan pengumuman depan sekolah nilai gua lebih tinggi dari lu. Hahaha gua harap sih tukang tissue gak bakal kehabisan tissue buat lu”
“gak akan” ucapku seakan sudah tak tahan lagi untuk mengakhiri ejekan yang dilemparkan icit padaku
********
Ulangan demi ulangan telah kulalui. Nilai nilai pun sudah banyak yang keluar. Posisiku kali ini bukan hanya menjadi murid,tetapi juga sebagi mata mata. Tentu saja, jika ada nilai yang keluar, bukan hanya nilaiku yang aku lihat. Aku juga terus memantau nilai icit. Sejauh ini nilai ku tidak ada ada yang di bawah dia. Hahaha sudah kuduga dia hanya omong kosong berkata kalau dia akan mendapatkan nilai yang lebih tinggi dari ku.
********
Braaaaak…..  sebuah badan yang tingi menabrak ku dari belakang. Aku pun jatuh tersungkur. Untung saja lutut dan tangan ku dengan reflek yang extra cepat langsung menompang badan ku. Dan saat ku balikan badan ku,ternyata icit yang menabrak ku. Kuayunkan saja tangan ku yang siap mendarat di pipi kirinya. Tapi dia juga dengan sergap langsung menangkis tangan ku dan berkata
“ weets orang pinter kok baru disenggol sedikit udah mau nampar ajah sih?”
“apaa? nyenggol? Maksud lu tuh apa? Lu tuh nabrak gua tau gak?”
“ yee maap… oh iya ngomong ngomong soal nilai. Sejauh ini gua belum pernah megang buku. Jadi kalo gua kalah sama lu ya wajar ya din? Nanti deh UKK gua bakal belajar,jadi lu bisa gua injek injek deh hahaha”
Tanpa banyak berbicara,kulempar saja buku fisika yang ada di tangan kananku ini. Strike,tepat mengenai kepala icit. Senyum licik pun terukir di wajah ku.
********
Okee. Waktu terus bergulir. UKK pun sudah terlewatkan. Sebenarnya aku agak sedikit takut untuk mengetahui nilai ku. Mungkin ini karna icit yang selalu mencela ku.
“nilai UKK sudah dapat dilihat di depan koridor” suara guru melalui microphone membuat hormon adrenalin ku memicu lebih cepat jantung ini. Tapi entah mengapa kaki ku enggan untuk berbagi tenaganya untuk berjalan melihat nilai itu. Baiklah, aku akan melihat hasilnya setelah pulang sekolah nanti.
********
Aku menyusuri lorong ini, berjalan menuju papan pengumuman. Astaga aku serasa ingin tenggelam. Nilai icit lebih baik dari pada nilai ku. Kenapa? Kenapa bisa seperti ini? Tidak aku tidak terima ini! Aku tidak bisa terima kenyataan ini.
Tanpa banyak bicara,kaki ku berlari menyusuri lorong dan memasuki kelas belajar ku. Aku terduduk diam di kursi guru. Ku tenggelamkan wajah ku di lengan ku yang terasa sangat lemas. Aku tak berhenti menangis tersedu sedu. Tangisan ku terus terisak.  Air mata ini membasahi lengan baju ku yang menutupi seluruh tangan ku.
“Ibuuu…. Aku akan di injak injak oleh icit. Aku tak akan kuat jika setiap hari menerima cemoohan icit karna nilai ku yang berada di bawah dia” aku teriak di dalam kelas yang kosong itu.
Saat itu juga sebuah tangan menjulur dengan sebuah tissue yang putih. Ku angkat sedikit wajah ku yang menampakan mata yang lebam. Yang berniat melihat siapakah orang yang berjiwa mulia yang dengan senang hati memberikan tisuue itu.
Itu icit, dia langsung meggeret kursi mendekati ku. Duduk dengan manis dengan memasang wajah yang bersalah.
“apalu? Hiks.. mau ngatain lagi?” isak ku
“engga kok din,gua malah mau minta maap ke elu. Sorry ya gua udah sering ngatain lu?” kata icit dengan nada yang menampakan rasa bersalahnya
Kata kata icit hanya ku jawab dengan senyuman.
“oh iya, gua tuh mau jadi presiden din. Makanya gua pinter. Nanti lu bakal jadi Warga Negara gua”
“hih sebenernya sih,gua kalo pemilu gak bakal milih elu hahaha”
“gak boleh gitu din,kita kan sesama temen harus saling mendukung”
“haha iya iya. Tapi kalo gua saranin ya coba dandanan lu tuh rapiin dikit gitu loh. Biar gak kaya anak brandal. Hahaha. Masa presiden penampilannya gitu”
Icit langsung berdiri merapikan baju nya dan mengambil atributnya didalam tas. Saat itu kami mulai akrab. Kami juga sering bertukar pikiran tentang pelajaran.
Amanat ku  kali ini : 1. Jangan melihat seseorang dari tampilan luarnya
2. apa yang kamu kenakan itu lah nilai mu. Jadi semakin rapi menggunakan pakaian maka nilai mu semakin bagus.
*TAMAT*

0 komentar:

Poskan Komentar