Jumat, 01 Februari 2013

Tak Semuanya Indah

haaai kawan. maap nih yaa telat ngeposnya u,u *lebaynya kambuh
liat deh liat judulnya ajah udah unyuuu badai. *nyambung gak tuh hahaha
baca judulnya ajah kalian udah luluh? wuaaah emang hebat berarti aku ya? *ngarep neng? hehehe
Lanjut ajaah deh yuuuk capcus ciiiin



Tak Semuanya Indah
Suara sobekan kertas terdengar di ruangan ini. Perlahan-lahan kusobek kertas ditanganku ini. Kertas ini adalah sebuah amplop yang sangat berharga. Sebuah amplop yang berisi hasil kerja ku selama 6 tahun belajar di tempat kecil nan sempit ini. Ya hari ini adalah hari yang kami semua tunggu. Aku duduk dikelas 6 SD. Dan hari ini adalah hari pembagian hasil Ujian nasional ku. Teriakan ku diikuti oleh seluruh teman yang berada di ruangan ini. Aku lulus. Lulus. Aku akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Lebih baik lagi dan akan ku ukir prestasi di tempat baru ku. Aku memeluk teman di sekitar ku dan teman teman ku membalas dengan pelukan yang sangat hangat. Ingin sekali aku melonjat ke atas langit. Tapi sayang,aku tidak akan bisa.
*******
SMP Puspanegara. Ya itu adalah nama salah satu sekolah yang aku dambakan. Ingin sekali aku menjadi murid didalamnya. Terdaftar sebagai siswa yang berprestasi. Tapi apakah aku mampu? Aku memiliki seorang kakak. Aku biasa memanggilnya Sogi. Ia memang lulusan SMP ini. Ia adalah salah satu faktor mengapa aku ingin sekali berada disini. Jadi dengan izin dan do'a dari kedua orang tuaku dan kakak ku aku mencoba dan mendaftar di sini.
Dan hari ini adalah hari dimana aku akan mengerjakan soal-soal yang akan menentukanku apakah aku pantas berada disini atau tidak.
    “jangan panik kalau ngerjain soal. Nanti malah tambah gak bisa” singkat ibu.
Aku hanya bisa terdiam dan membayangkan betapa sulitnya nanti aku duduk disana tanpa ada seorang pun yang kukenal. Aku yang memakai seragam putih dan rok merah di bawah lutut. Duduk diam dan menunggu seorang guru yang akan membimbingku. Jantungku mulai berdetak dengan kencang lagi. Aku mencoba untuk membuat organ tubuh ini bekerja seperti biasanya. Bel mulai berbunyi,seorang guru pembimbing pun masuk kelas dengan memberi senyuman nya yang menawan. Seorang guru perempuan yang berpostur tegap dan, yaa bisa dibilang guru ini sangat muda.
 2 hari kemudian. Sebuah pengumuman terpampang jelas di depan sekolah ini. Ya,Allah tubuh ku hampir lunglai melihat pengumuman ini. Tertulis jelas namaku disana. Terdaftar dalam murid yang diterima di SMP ini. Terimakasih ya Allah. Aku akan melanjutkan sekolah ku di dalam SMP ini.
********
Senin pagi menyambutku. Jam alarm berbunyi beberapa kali. Aku tidak ingin hari pertama ku di sekolah baru berantakan hanya karna telat. Selesai berpakain rapih,aku menuju sebuah cermin yang tergantung di kamar. Aku tampak lucu menggunakan seragam putih dengan dihias tulisan OSIS berwarna kuning di sebelah kiri depan. Dengan rok putih panjang menutup seluruh kaki ku. Aku sudah SMP. Upacara ku ini memang sedikit berbeda dengan yang dulu. Aku berdiri di depan dengan topi dan melekat di kepalaku. Dan inilah yang aku tunggu. Pembagian kelas dimulai. Aku akan ditempatkan di kelas mana ya?
 Satu per satu anak dipanggil. Dan ternyata aku masuk ke dalam kelas 7-3. aku sedikit lugu dengan teman ku yang baru kukenal semua. Semua tampak begitu aneh di mata ku. Tetapi lambat laun aku yakin,aku akan bisa beradaptasi dengan mereka. Sang wali kelas pun datang dan memberitahu hal yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan,dan jadwal pelajaran. Beliau juga memberikan sebuah kertas yang baru kusadari itu adalah sebuah formulir. Formulir untuk mendaftar eskul yang akan kita ikuti. Banyak eskul yang di adakan di sekolah ini. Ada eskul yang wajib dan eskul tidak wajib. Eskul wajib dengan percaya diri aku meberi tanda ceklis di kotak yang disediakan. Dan lain nya adalah basket.
********
Disinilah sebuah ceritaku di mulai. Dari sebuah eskul yang kupilih,basket. 
 
Jadwal latihan nya adalah hari selasa. Memang biasa saja pada pertama kali aku mengikutinya. Tetapi pada saat ke dua kali aku mengikutinya...... aku melihat seorang laki-laki yang manis. Dia berkulit putih dan lebih tinggi dari diriku. Aku bisa melihat postur tubuhnya dengan jelas karna dia berdiri tepat di sampingku. Beberapa saat aku melihatnya. Dan baru kusadari,ada beberapa bekas coretan tipe-x di sekitar pipi dan telinganya
      “sa,tuh anak kenapa? kok ada tipe-ex gitu?” tanyaku kepada esa. Esa adalah teman sekelas dari laki-laki putih tadi.
      “ooh itu, dia tadi abis berantem ama temen nya pake tipe-ex gitu deh.” jelas esa
      “bengal dong sa?” tanyaku.
     “ya gak bengal juga din. Namanya juga cowo. Pasti pernah berantem lah.” jawab esa. Aku hanya mengangguk dan terus memperhatikan laki-laki yang tidak sadar dirinya sedang dibicarakan.
 Latihan hari ini kurasa cukup menguras tenaga. Apalagi aku di bagian tengah yang kerjanya lebih berat dibanding yang lain. Dengan berani aku memulai percakapan dengan laki-laki itu untuk memohon bertukar tempat dengan ku
     “eh,tukeran tempat dong. Di tengah cape nih.” pintaku kepadanya. Dia hanya menoleh ke arah ku dan tersenyum. Oh lihat lah,dia tersenyum. Senyuman yang bisa dibilang manis.
 Aku terus memohon agar bisa berpindah tempat. Dan akhirnya setelah lama bernegoisasi,dia pun menyerah dan akhirnya menuruti permintaan ku. Tak lupa aku mengucap terimakasih padanya. Tanpa berkata-kata ia hanya tersenyum (lagi). Dan baru ku sadari, aku tertarik padanya.
********
Aku bercerita kepada teman ku yang bernama Ilham,Acus,Iyal,Mia dan Iqbal
      “cus,kemaren gua ketemu ama cowok.hahaha” ucap ku seakan membuka percakapan
     “emang sekarang lu gak ketemu ama cowok? Kitakan juga cowok din.” celetuk ilham. Kami semua tertawa mendengar jawaban ilham,kecuali aku.  
     “ih serius. Dia tuh anaknya putih. Kemaren pake celana olah raga... biru kayanya.” kataku sambil mencoba mengingat.
     “oooh itu mah temen kita ya cus? Itu loh anak 72.” jawab iqbal sambil memukul kecil pundak acus.
    “ cieee,suka yaa? Aah gua bilangin ah ke anak nya” teriak acus. Aku tidak berani berkata apa-apa,karna memang benar apa yang dibilang acus.
Gosip itu pun langsung tersebar di seluruh kelas 73 dan 72. dan secara otomatis dia sendiri pun langsung mengetahui.  Pertama-tama aku bersikap biasa saja,jadi kalau ada orang yang mengejek aku hanya bisa membalas dengan berkata 'cuman gosip. Jangan percaya'. Itulah kata yang sering ku ucapkan.
Tetapi entah mengapa,dampak itu pun baru bisa kurasakan saat 1 bulan setelah kejadian menyebarnya gosip itu. Dia selalu menjauhi ku. Terasa sekali saat latihan basket yang selalu kuhadiri dan upacara bendera hari senin.karna kelas ku tidak jauh berbeda dengannya,jadi saat upacara, samping kiri ku adalah kelasnya.  Di mana aku berada,dia selalu berada di berlawanan tempat dengan ku. Sangat sakit sekali rasanya dianggap rendah seperti itu.
Suatu kali,saat aku sedikit terlambat menghadiri latihan basket,aku sedikit kebingungan memilih tempat untuk baris. Jadi aku langsung masuk ke barisan paling depan. Dan aku baru tersadar kalau dia juga di depan dan bertepatan di sampingku. Aku pun kaget saat ia berpindah tempat dan sedikit menghentakkan sepatunya dan langsung pindah kebarisan paling belakang. Aku sedikit bingung dengan tingkahnya. Tetapi biarlah sudah.
Hal yang sama juga pernah kurasakan saat sedang upacara bendera. Aku merasa sangat mual,jadi aku ditempatkan di barisan yang paling belakang. Kata teman yang lain,jikalau aku mau pingsan atau sakit,langsung bisa minta kepada petugas PMR yang berjaga di belakang untuk mengantarkan ku ke UKS. Dan langsung kusadari,ada seseorang yang tidak terima kalau aku berdiri di tempatku ini. Aku pun tahu diri. Jadi aku langsung pergi dengan sedikit menjauh dan aku melakukan hal yang sama yang ia lakukan. Aku sedikit  menghentakkan kakiku.
********
Malam yang sunyi ini pun aku mencoba mengirim pesan teks kepada Ilham. Aku meminta nomer handphone Mia. Tidak lama kemudian ilham membalas pesan ku dan berisikan sebuah nomer. Tanpa basa-basi aku mencoba sms Mia berbekal nomer yang di beri oleh ilham. Memang, saat itu sudah lebih dari jam 9 malam. Tetapi aku masih asik dengan handphone ku.
Tak lama kemudian ada sebuah balasan. Aku kira SMS itu dari Mia,ternyata dari Ilham lagi. Dia mengatakan kalau sebenarnya nomer telpon yang tadi ia kirim bukan nomer Mia,melainkan nomer laki-laki yang kukagumi sampai sekarang. Oh sial! Aku harap dia tidak akan membalas. Tetapi salah. Hape ku tiba-tiba berbunyi. Dari diaaa. Aku sedikit takut membalasnya. Seolah dunia ingin kuputar balikan kembali. Andai saja aku tahu dari awal kalu itu bukan nomer Mia,aku tidak akan berani mengirim SMS ke dia. Tetapi dengan berani aku membalas dan mengakuinya. Aku pun menjelaskan mengapa aku bisa mendapat nomernya.  Dan malam kembali sunyi. Tak ada balasan lagi.
Aku benar benar sangat takut. Seolah olah ingin sekali aku memendam tubuh ini dalam dalam di alam yang sangaaat dalam. Kenapa semua terjadi? Semua kekacauan ini akan bertambah parah. Dia akan mempertebal  rasa kebenciannya padaku. Sekujur tubuhku ini terasa dingin sedingin es,lalu disiram air panas sampai melepuh. Seakan seluruh keping darah di dalam tubuh ini berhenti mengalir. Seluruh sel di tubuh ini berhenti bekerja. Apa tidak cukup penderitaan ini? Dijauhi orang yang ku kagumi. Ku kagumi dari awal jumpa.  Tetapi biarlah semua harus kuterima apa adanya. Dan benar saja keesokan harinya setelah kejadian semalam,dia sangat menjaga jarak dari diriku. Lebih dari hari kemarin!
********
            Aku masih tetap menyimpan nomer pemberian Ilham. Mungkin sewaktu waktu aku membutuhkannya. Dan memang benar,setelah ku ketahui tanggal ulang tahunnya yang kurang dari seminggu itu,aku mempersiapkan mental untuk mengirim pesan teks padanya di hari H.
Waktu pun terus berjalan, saat tiba hari H,aku memberanikan diri untuk mengirim pesan teks padanya. 
Happy Birthday ya. Semoga panjang umur dan sehat selalu. Itulah kata-kata yang kukirim kepadanya. Tak lama kemudian hape mungil ku bergetar beberapa kali. Dengan takut aku mencoba membuka dan ternyata memang dari dia yang hanya mengucapkan sepatah kata. Makasih ya.  Aku pun tak berani membalasnya lagi.
            ********
      “Dindaaaaaaaaaaaa piket dulu,jadwal lu nih sekarang” Teriak Rafi sang seksi kebersihan.
      “ iye boss,ini mau piket. Jangan diomelin ngapa boss” canda ku.
      “buru ah,mau gua kunci nih” dumel Alief. Dia juga seorang seksi kebersihan.
     “ cowok kok bawel sih. Yaudah sini gua ajah yang ngunci pintunya,lu berdua pulang ajah. Kelasnya kotor banget soalnya. Mau gua sapu dari awal lagi” ucapku.
     “ iih baek banget yak nih bocah. Dah yuk pi,lip balik. Nih kuncinya ya din di meja guru” ucap Ryan,salah satu teman mereka. Kata-kata Ryan hanya kujawab dengan anggukan kecil.
            Setelah selesai aku membersihkan kelas ini,aku pun segera mengunci pintu kelas ini. Tap...Tap...Tap... bunyi sepatu ku yang beradu dengan lantai memecah kesunyian lorong ini. Tetapi saat langkah ku tiba di depan pintu kelas 72,aku menginjak sebuah benda. Dan aku tersadar itu adalah topi. Kuambil benda itu,dan kulihat nama di dalam topi ini.
            Dash ..... jantungku seperti tertinju,tertulis jelas nama didalam topi ini. Itu milik dia. Cowok yang kukagumi. Ingin ku buang,tetapi kasihan. Jadi kusimpan saja topi itu didalam tas. Saat sampai rumah,aku memberanikan diri mengirim pesan teks yang isinya memberitahukan kalau topi sedang ada ditangan ku. Dengan bahasa yang kasar dia marah kepadaku. Dia bertanya mengapa itu bisa terjadi. Aku menjelaskan kalau aku menemukan di depan kelasnya. Bukan berkata terimakasih atau apa. Dia malah tidak membalas SMS ku. Biarlah dia yang membutuhkan. Niat ku kan baik. Aku hanya ingin membantu.
            Malam senin saat aku sedang berkutik dengan buku ku,sebuah SMS masuk. Ku kira dari teman sekelasku yang bertanya tetang tugas atau apa. Tetapi bukan,dari dia yang isinya balikin topi gua!!!! Dengan tanda seru di akhir kalimat,menunjukan kalau dia tidak suka aku menolong nya. Aku pun menjawab ambil ajah sendiri. Ditolongin bukannya terimakasih. Tak ada balasan lagi.
            Saat pagi hari,aku terdiam di bangku ku. Melihat kearah jendela luar yang masih sangat sepi. Sebuah ketukan di kaca beberapa kali memecah kesunyian dikelas ini. Ketukan itu makin lama semakin kencang. Aku sadar itu adalah dia yang tak berani masuk ke kelasku. Ingin sekali aku teriak memarahinya. Tapi tak mau cari masalah aku langsung keluar dan membawa topinya. Dengan kasar dia langsung mengambil topinya dari tangan ku,membawa topi itu pergi tanpa ada sepatah kata yang terucap dari mulutnya. Ingin sekali ku dorong dia sampai jatuh tersungkur  kelantai. Ingin sekali aku melihatnya  jatuh dengan mulut atau hidung yang berdarah-darah. Ya itu terdengar sangat mengerikan. Jadi dengan cepat aku memendam keinginanku. Dan hanya bisa melihat raut wajah kebenciannya dari jauh. Geram sekali rasanya!
********
                Makin hari aku tak mengerti apa yang aku rasakan. Kadang rasa kebencian merasuk kedalam dada ini,tetapi itu tak akan bertahan lama. Melihat kelakuannya kepada ku,aku rasa dia benar-benar sangat memebenciku. Tetapi aku juga sering melihatnya dari kaca jendela yang langsung menghadap kearah kantin. Disanalah aku sering melihatnya. Aku ingin melupakannya.  Melupakan awal pertemuan ku dengan nya. Tetapi semua terlanjur. Telanjur untuk di sesali. Aku yakin,hidup ini seperti roda yang berputar. Aku yakin semuanya akan indah pada waktunya.
                Lama setelah sikapnya yang selalu tidak ramah kepadaku,kian lama kian memudar. Saat upacara bendera aku berdiri tidak jauh dari tempat nya. Dia tidak berpindah tempat. Ya walaupun dia masih memasang muka yang tidak ramah. Tetapi itu lebih baik dari yang lalu.
********
                Malam sangat larut, tadi pagi aku baru saja menerima hasil belajar ku selama 1 tahun belajar.  Jadi aku memutuskan untuk begadang dan menonton film yang ada. Dengan iseng aku mencoba sms dia dengan maksud menanyakan nilai yang ia dapatkan. Tak ada balasan. Ya itu memang hal yang biasa untuk ku.  Saat aku ingin tidur,tiba-tiba hape mungilku berbunyi. Siapa yang sms malam-malam begini ya? Apa mungkin teman ku yang mengucapkan selamat atas nilai yang kuraih? Tetapi tidak mungkin selarut ini mereka mengucapkannya.
Dengan sedikit malas aku mengambilnya dan membukanya. Dag ..Dig..Dug... jantungku mulai tidak stabil. Dia membalas sms ku,tanpa ada nada yang marah kesal atau nada kebencian dari kata-katanya. Oh tidak,aku seperti mimpi,melayang ke udara. Tetapi  tiba-tiba terhempas jatuh oleh angin puting beliung yang hitam,saat aku mengingat kalau dia tidak pernah seperti ini. Aku mencoba berkali kali memastikan kalau itu benar dia. Dan dia selalu menjawab yang membalas ini adalah benar-benar dirinya.
                Saat libur sekolah, aku mulai dekat dengannya. Aku sudah sering berkomunikasi dengannya. Ya walaupun hanya sekedar sms. Tetapi itu lebih baik menurutku. Aku sering tersenyum sendiri jika aku membaca ulang SMS nya. Agak sedikit aneh,oh bukan sedikit,tetapi sangat aneh, dia yang dulu sangat membenciku,sekarang dia sudah berubah. Berubah 180 derajat,tetapi tentu saja dengan kurun waktu yang sangat lama. Cabang Biologi menyebut ini dengan evolusi
                Makin lama,aku meraskan dia benar benar sangat berubah. Bukan hanya 180° tetapi 360° dari yang dulu.
********
                Aku kini memulai dengan tahun ajaran yang baru. Aku tampak lebih sedikit dewasa dengan baju baru ku yang membalut di tubuhku. saat pembagian kelas ternyata aku tidak sekelas dengan dirinya. Aku di kelas 85 dan dia dikelas lain.
                Aku sangat mencintai kelas ini dan seluruh murid yang berada di dalamnya. Kelas ini kecil,berisik,sumpek,tetapi sangat menginspirasi. Disinilah aku menemukan semuanya. Persahabatan,persaingan,permusuhan sampai penderitaan yang kami alami bersama. Disini lah aku bersama 9 teman ku sering berbagi cerita. Tentu saja aku sering bercerita tentang dirinya kepada mereka. Dirinya yang sudah berubah.
                Hari ku di kelas 8 selalu ceria. Selalu mendapat pengalaman baru yang tidak akan pernah selesai jika dijabarkan 1 per 1. Tentu saja tidak luput dari dirinya yang juga mengisi hari ku.
                Malam yang aneh pikirku. Tidak ada tanda tanda sebuah SMS masuk. Kamana dia ya? Ah mungkin ada halangan. Biarlah,aku ingin istirahat saja. Drrrrtt... tiba-tiba sebuah sms masuk,ternyata  dari dirinya. Isi SMS yang tidak pernah aku pikir sebelumnya. Ia menggungkapkan isi hatinya padaku.
                Apa yang sebenarnya terjadi? Rasa yang pernah hilang kini kembali muncul. Apakah Itu artinya aku bukan memendamnya,melainkan aku menanamkannya dalam-dalam. Dan kini muncul dengan tiba-tiba. Merekah menjadi bunga yang indah.
********
            5 bulan berlalu,tidak berlalu begitu saja pastinya. Berlalu dengan indah bersama dirinya. Halangan memang beberapakali aku hadapi. Tetapi aku masih tetap berlanjut dengannya. Hingga suatu hari..... entah mengapa ia menyudahi  hubungan kami. Awalnya memang aku kaget. Tapi yasudahlah,untuk apa aku memohon kembali?
                Aku tahu,tidak semua cerita indah berakhir indah pula. Aku pikir cerita ku ini hidup seperti kaktus. Kaktus yang berduri,kecil, dan aneh. Tetapi saat sepucuk bunga mulai merekah dari kaktus itu,semua orang yang melihat akan terpana. Dan ada saat nya mereka layu,semua tidak akan indah lagi.
                Atau seperti pelangi yang hanya terbentuk dari bintik-bintik hujan putih yang runtuh kebumi.  
Yang dibiaskan oleh sinar mentari yang indah. Dan bintik kecil itu menghasilkan sebuah perpaduan warna yang sangat indah. Membuat semua yang melihat tidak bosan untuk mengadah kelangit. Tetapi ada saatnya pula pelangi itu akan hilang.
                Atau juga seperti kupu-kupu.
Yang awalnya hanya seekor ulat menjijikan yang hanya dipandang rendah oleh yang lain. Hanya bisa memakan tumbuh-tumbuhan di sekitar mereka. Tetapi saat mereka menjadi seekor kupu-kupu yang menawan,semua akan terheran-heran. Tetapi ada saatnya seekor kupu-kupu akan mati. Sama seperti ceritaku
                Biarlah semuanya berlalu,biarlah semuanya mengalir seperti air yang selalu mencari tempat yang lebih rendah. Biarlah kenangan itu pergi seperti burung-burung yang berkoloni terbang mencari tempat yang lebih hangat dan aman. Biarlah rasa ini hilang seperti air yang terserap oleh tanah tandus. Mungkin saja semua ini akan muncul lagi.
*SELESAI*


Weees gimana nih ceritanya seruu kan pasti? Bisa jadi penulis dong aku? Hahaha. Sekalian dulu ya kawaaaan. Sampai ketemu di postingan lainnya ;;)
 

6 komentar:

blogger mengatakan...

wah blog ini sangat menarik loh, aku juga mau terdaftar namanya di situ =))

dinda amaliacandela mengatakan...

okeeh nanti saya buat ;)

dinda amaliacandela mengatakan...

okeeh nanti saya buat ;)

Alfonsus Galvin Yudha Anggara mengatakan...

kenapa nama gua acus? yg kerenan dong Galvin:p

dinda amaliacandela mengatakan...

acus juga udah kere kok ;)

Alfonsus Galvin Yudha Anggara mengatakan...

bikin lagi dong din yang buat sekarang

Poskan Komentar